Minggu, 17 Mei 2009

orang labuhan

-orang labuan-

"where's my boat?"

"my headphone you save my life"

Wangi anyir menyusup diantara rambut hidung terasa biasa, layaknya udara yang otomatis reflek hirup tanpa harus mengeluarkan upaya dan energi untuk mendapatkannya. Enak saja, memang udara milik siapa, walau bebas, namun tetap ada harganya bukan. Kepada si pemilik semesta. Bersimpuh sejenak di musola Al-Iman tidaklah sulit rasanya, untuk membayar apa yang sudah terhirup. Toh orang labuhan cukup senang melihat kesenangan para pemotret dadakan yang seenaknya bersenang-senang di sore yang tenang. Atau malah terganggu, atau malah terhibur. Terlihat pandangan mata sih cukup senang.

Mungkin diantara panas dan anyirnya labuhan, pemotret dan model dadakan sore itulah hiburan mereka. Duduk dibawah jangkar yang menggantung, dan tidaklah mereka mengerti saya terheran mengapa jangkar itu tidak ditenggelamkan malah tergantung dan berkarat. Dan mengapa kapal tersebut tidak hanyut. Oh jelas saja tidak ada ombak atau arus. Dan kapal merapat terjajar layaknya mobil yang terpakir miring dan rapih di parkiran jalan braga.

Sore itu malam minggu. Atau sama saja bagi mereka, sore yang sama, udara yang sama, anyir yang sama, dan peluh penat yang sama. Menanti truk barang merapat pada kapal, dan memindahkan muatan truk dengan menapaki kayu panjang yang mereka sebut jembatan namun setapak tanpa ada pegangan dan agak bergigi agar tidak licin orang labuhan bergiliran memikul. Pemotret dan model dadakan sore itu tetap saja seenaknya, tanpa menyapa mengambil dinding-dinding maha luas dunia orang labuhan. Turut berebut udara dalam ruang dan waktu orang labuhan. Menyimpannya dalam bingkai-bingkai digital dengan mata 150 meter 2 megapiksel manual auto fokus flash internal, canon eos 350D. Tanpa menyapa. Apa terlalu terpukau dengan ruang orang labuhan. Hanya ruang bukan subjek di dalamnya.

Orang labuhan masih saja menonton. Mungkin sajian hiburan di sore malam minggu ini. Ikut tertawa melihat canda dan tingkah polah pragawati dadakan. Ida ayu komang mungkin juga bisa menjadi pusat perhatian selain dalam gebyar-gebyarnya jakarta. Bukan hanya tertawa mungkin jatuh cinta karena melihat sosok ida. Tapi lupakanlah ida. Mungkin sekarang dia sudah menjadi nenek-nenek karena masa gemilangnya sudah lewat. Ini era 2000 ia ada di era 80an. Ini era pemotret dan pragawati dadakan sore itu, juga era orang labuhan yang masih tertegun sambil menikmati kopi hitam warung atap terpal yang sama dadakannya muncul sore itu.

Matahari menyelinap diantara gumpalan awan yang merata sore itu. Perlahan tertunduk dan turun ke sangkarnya ufuk barat. Menyisakan sinar yang juga menyelinap diantara tiang-tiang kapal yang terpakir rapi dalam lapangan parkir sunda kelapa 1524. Oranye. Jingga. Anyir. Segar. Fajar Rahmat. Orang labuhan yang kami hibur sore itu. Dan bernyanyi.


In the town where I was born lived a man who sailed to sea

And he told us of his life in the land of submarines.

So we sailed on to the sun till we found the sea of green,

And we lived beneath the waves in our yellow submarine.

We all live in a yellow submarine,

Yellow submarine, yellow submarine.

We all live in a yellow submarine,

Yellow submarine, yellow submarine.

And our friends are all aboard,

Many more of them live next door.

And the band begins to play.

Full speed ahead, mister Parker, full speed ahead!

Full speed over here, sir!

Action station! Action station!

Aye, aye, sir, fire! Heaven! Heaven!

(Full speed ahead, mister Bosun, full speed ahead!

Full speed ahead it is, sergeant!

Cut the cable, drop the cable!

Aye, sir, aye! Captain, captain!)

As we live a life of ease,

Ev'ryone of us has all we need,

Sky of blue and sea of green in our yellow submarine.

Tidak ada komentar: