Hanya menoleh. Sesungguhnya hanya mau menapaki jalan sendiri. Yah siapa lagi kalo bukan diri ini yang menapaki. Setiap orang adalah sendiri. Dalam luasnya dunia yang tak bertepi. Jelajahi udara, ruang, dan waktu. Setiap agenda detik tertapaki sendiri. Tenggelam dalam pusaran waktu, hingga tiba saatnya entah apa namun pasti hingga saat itu datang. Ketika bertanya pada orang lain yang tengah menapaki juga jalan hidupnya sendiri, memang dia berhenti sejenak. Namun tetap trek itu kita tapaki sendiri.
Kala itu saya berdiri dalam kemudi bus, dalam kecepatan 70 km per jam, berdiri dan hanya bersandar pada ujung bangku bus, dan tetap berjejal dengan bahu orang lain. Biarlah mengganggu sedikit kenyamanan orang tersebut. Sudah resiko menaiki bus kota. Saya senderkan bokong saya, dan terjadi perebutan udara. Biarlah. Berdiri dengan obat sakit kuping, alunan bunyi yang mengerti benar saya butuh mahakarya manusia yang terekam dalam benda kecil berwarna ungu. Biarlah, orang memerhatikan saya dengan benda bulat ditelinga. Mungkin yang ada dipikiran mereka, hey apakah kau tutup telingamu dari suara dunia. Hmm, yah saya akan tutup dan terus bergelut dengan apa yang saya lihat, hirup dan rasakan. Namun bukan yang saya dengar.
Kembali pada detik ketika saya berdiri menyandarkan bokong pada pinggir bangku bus. Dari balik kaca film hitam, saya kembali melihat senja yang selama ini sempat saya lupakan. Background yang begitu nyata, diantara jelaga-jelaga gunung kotak tinggi. Tenggelam dan lagi-lagi tenggelam. Tidak peduli betapa betis ini ingin meledak, serta aroma ketiak kehidupan menusuk rongga hidung, saya tidak peduli. Bahkan untuk mengedippun saya sungguh berat. Namun terhentak saya ingat akan senja di akhir tahun itu. Sialan. Senja yang sama-sama saya lihat dari balik kaca film, namun bukan bus melainkan kerata besi. Tidak berdiri namun duduk manis.
Senja yang sama dengan hiasan gunung kotak. Senja 31 desember 2008 yang akan selalu saya ingat. Senja yang mengantar saya pada fase merasa bebas dan tanpa memikirkan aturan apapun dan siapapun. Fase dimana saya bebas memilih kemana harus menaklukkan malam yang kata orang sungguh spesial. Pergantian tahun. Apalah namanya. Walau ternyata sesungguhnya tidak berbeda dengan malam-malam yang silih berganti tiap harinya. Senja di kereta itu mengantarkan saya pada malam dalam kecepatan benda aneh yang bisa ditunggangi layaknya kuda. Si Kampred menyebutnya syurip. Menghasilkan sepoi angin malam dan ketika saya menengadah ke atas, kilat-kilat cahaya berhamburan. Mereka menyebutnya kembang api. aargh tak lupa gelitik bandrek susu mengalir di kerongkongan. Dingin saat itu, walau si biru bersedia menghangatkan dan ada di tas 50rban made in blok m. Saya hanya ingin menyerap tusukan dingin udara buitenzorg malam pergantian tahun. walau entah apapah malam lain di buitenzorg rasa dinginnya sama dengan malam itu. dan yah sederet cerita tiada klimaks dari mulut si kampred.
Namun senja di bus itu tidak mengantarkan saya pada fase yang sama. Senja di bus kala itu mengantarkan saya pada fase kau tidak bebas memilih dengan apa kau menaklukkan malam ini. Tidak, tidak ada pilihan lain, selain memejamkan mata bersama kasur putih dan selimut kotak-kotak. Mengalah pada tubuh yang letih, perasaan yang semrawut, dan pikiran yang tidak jernih. Malah harus memikirkan aturan kantor besok pagi, dan aturan Tuhan untuk menunaikan doa.
Aaarghh senja kereta pakuan. Jangan jerumuskan saya lagi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar