Senin, 22 Juni 2009
Kamis, 18 Juni 2009
a day in a life
With your bitter, twisted lies,
You may trod me in the very dirt
But still, like dust, I'll rise.
Selasa, 16 Juni 2009
SO NAIF TODAY!!FREAAAKKKK!!
ini kaset gw inget banget adalah kado ulang tahun ke 16 dari njum my best friend in high school n til now, we always spend our free time togather. its been a long time, sekarang umur gw 22..6 year!!haloooowww...langsung saja sesampai kantor saya googling dan donlod lagu album pertama Naif. berhubung gw gag ada radio tape untuk muter tuh kaset, so how.. dan hasilnya..hmmm I'M SO NAIF TODAY!!!
enjoying lagu-lagu lawasnya..Just B, Benci Libur, Sekali Layar, Puspa Indah, Imaginary Son, Jauh..aargh memori SMU kembali..sambil mendengarkan kaset diam-diam..NAIF, Cranberries..saat pelajaran Tata Negara yang sungguh membuat ngantuk :P sorry Bu Delfy (guru Tata Negaraku)
Minggu, 14 Juni 2009
juve in action
Minggu, 07 Juni 2009
mengenang Kono
Friday, October 5th, 2007
Cinta serupa dengan laut / Selalu ia terikat pada arus / setiap kali ombaknya bertarung / Seperti tutur kata dalam hatimu / Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya/ Kau disampingku / Aku di sampingmu / Kata-kata adalah jembatan / Waktu adalah jembatan / Tapi yang mempertemukan /Adalah kalbu yang saling memandang.
(Abdul Hadi W.M )kalo kata si Kono pahit.manis.asin. lalu si Kono berkata lagi.
"Setiap lelaki musti bertanggung jawab kepada hati yg dicintainya dan setiap wanita harus setia kepada hati yg ia cintai. Itu saja. Hukum alam itu. Kalau gak begitu,bakalan lemas lesu setiap orang berangkat kuliah."
“Bang Kono ada dimana sekarang? Lama tak besua bang. Melalui lirik2 hatimu yang kau tuangkan pada blog macam ini. dulu bulettin board di frisndster bang,hahah, kini tak kau ikuti trend facebook bang.tak apalah, jadi semakin rindu bang. Di negeri antah mana kau kini menapak. bah si bang Kono, bagaimana dengan kuliahmu bang. Tapi saya yakin bang, tiap tarikan napasmu adalah kuliah. Kuliah hidup.
Kalbu yang pernah kau lukiskan dulu nampak kini tak saling memandang bang. Pada kawanmu ini. belum ada kalbu yang memandang balik ke arah saya dengan niat yang tulus. Pernah namun hanya sebentar, selintas lalu kalbu itu menoleh kembali, melempar lebih jauh pandangannya dan membelakangi saya. Namun kalbu saya tidak beranjak bang. Ikut berbalik arah atau lebih jauh turut melempar pandang yang lebih jauh pun tidak. Sungguh sesak melihat punggung itu semakin menjauh bang. Punggung kalbu yang semakin lama terlihat kabur tiap mata ini berkedip. Dan saya masih diam ditempat. Dongo, kalo kata sahabat saya dokter koas ireng.
tak ada waktu lagi bahkan jembatan. Tak ada laut dan ombak bang. Mana bisa melebur. Tak ada dimensi yang menyatukan kalbu ini lagi bang. Sesal, entahlah bang. Saya tidak mau menyesali. Karena VAIN. Dan pertanyaan besarnya,”Mana yang harus saya percaya dari hidup bang”. Kuliah yang tak kunjung selesai ini. “
Tx to my elementry school teacher, Pak Anhar :)




Dulu waktu kecil, saya pernah bermimpi berenang di laut dan menepi di pulau-pulau Indonesia. Yah berenang, meski sampai sekarang saya tidak bisa berenang. Saya ingat lelah sekali saya berenang dan akhirnya menclok ke pulau yang betuknya seperti huruf K. Lalu saya berenang lagi dan tiba ke kepala pulau kalimantan. Huh lelah, tapi saya suka saat itu.
Waktu itu sampai ke bawa mimpi karena saking harus bisa menghapal pelajaran “Peta Bumi” entah masuk pelajaran geografi atau apa, waktu itu masih SD. Saya juga sedang giat-giatnya membaca atlas dan buku les yang diberikan guru SD saya waktu kelas 5, Pak Anhar namanya (yg beberapa bulan yg lalu kami bertemu di tempat tambal ban, jembatan 1 komplek rumah).
Judul bukunya saya lupa, yg pasti berisi pengetahuan tentang nama-nama kota Indonesia beserta potensinya. Mirip semacam modul sih, hasil rekapan yang dibuat oleh guru saya yang kreatif itu. Mati-matian saya menghapal semua kota di Indonesia beserta potensinya, hanya demi mendapat gelar kelompok terbaik di tempat les. Yah waktu itu Pak Anhar membuat macam cerdas cermat, membuat beberapa kelompok di kelas dengan nama benua di dunia. Nama kelompok saya benua Australia.
”Australia negri wol, katanya katanya. Aborigin sukunya, katanya katanya. Kanguru binatangnya, katanya katanya. Bumerang senjatanya, katanya katanya “ (senandung grup vokal favorite saya saat itu, Trio Kwek Kwek).
Setiap sore saat kami les, kami berlomba-lomba menempati posisi terbaik. Tanya jawab seputar kota di Indonesia dan juga di dunia seingat saya beserta potensinya. Asik sekali, kalo sekarang bisa dibilang memicu adrenalin. Tapi anak SD saat itu mana paham soal adrenalin. Yah suasana kompetisi di kelas kecil kami yang sangat menyenangkan. Ambisius sekali saya saat itu, harus mendapat gelar terbaik setiap hari. Meski hasilnya tidak selalu. Karena kawan-kawan yang lain ternyata berlaku sama. Mati-matian menghapal. Kompetisi langsung, nyata dan jujur. Hmmmf,Kangen.
Hasilnya sampai sekarang, metode pelajar ala guru saya itu ternyata menginspirasi saya untuk terus bertualang di negeri tropis yang semoga saja saya cintai. Belum banyak memang yang saya kunjungi. Pulau jawa mungkin sudah 40 persen, karena tiap kali mudik keluarga mengambil rute perjalanan yang berbeda. Namun sayang tidak terdokumentasi dengan baik. Usia 22 cukup telat memang untuk terus menjelajah. Namun tak apalah, biarkan angin membawa saya kemana dan dimana. Dan saya benar-benar harus belajar berenang agar jika sudah mentok, yah berenang saja mengarungi jelaga samudra. Seperti mimpi duidui kecil.
*Sedikit review in perfectly December 2008, the “kalbu” wasn’t shy.
memotret.mengedit.menulis.menyanyi
“aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember”
Desember. Desember. Desember. Selalu menyenangkan. Selalu berwarna. Selalu hujan dan selalu menikmati hujan. Dan terkadang muncul pelangi diantara mendung dan matahari yang mengintip sesekali. Lebih indah lagi jika senja. Mendung, pelangi, ujung sinar mentari, senja hari, lembayung, sedikit jingga dan Desember. Perfect!! Tak peduli sendiri, berdua, bertiga, atau se-unit marching band.*LOL. Semua terlalui setiap Desember. Semua ternikmati di Desember. Entah seperti apa Desember tahun ini. Semoga aku pun suka dengan Desember nanti. Waiting for Desember. Love in Desember. Playing on Desember. Singin on Desember. Ekpektation for Desember. Hope more better.
“come on baby try harder”
Mengapa menyerah begitu saja,tuan. Ayo berjuang lebih keras. Apabila mengecewakan apa dengan mudah ucapkan selamat tinggal. Mengapa menyerah. Sementara saya tidak akan menyerah. Walau bernyanyi sendiri. Bermimpi tentangmu sendiri. Bertanya padamu, meski kau tak berjuang untuk memberi jawaban pertanyaan hidup yang senantiasa ku tanyakan. Sampai waktu untuk bertanya dan menunggu selesai.
“gadis desa sepertiku tak mudah ditipu”
Baiklah tuan kapiten. Saya tidak akan tertipu lagi. No excuse untuk nona gadis desa. Terpukau dengan kerlip kerlip lampu di kota, bukan berarti lengah dan melebur bersama kemunafikan hidup. Hey bukalah kacamata hitam berbingkai merahmu. Saya pantang tertipu. Walau sering tak tersadar sudah tertipu atau malah menipu satu sama lain. Termasuk menipu diri sendiri, padahal kalbu kecil tak pernah bisa tertipu. No excuse and bla bla bla bla bla. Lepaskan tanganmu, persetan denganmu tuan kapiten. Berlarilah, pergilah, naik gerbong istimewa.
“making love to you just like a dreams to me, having you beside me is a fantasy”
Pernah bermimpi. Pernah berfantasi. Namun sangat jarang jika menjadi nyata. Beruntung mendapat kado terindah saat itu. Mungkin hasil dari sholawat nariyah yang kulafalkan 11 kali tiap habis sholat fardu. Entahlah, namun tidak juga. Karena sholawat itu pula sekarang mimpi dan fantasi itu tak lagi nyata. Jawaban terbaikkah. Semoga. Namun tak salah bukan untuk terus bermimpi dan berfantasi. Manusiawi bukan. Sekarang hanya tinggal mencoba peruntungan itu kembali.
“kau tahu hati adalah penglihatan paling sejati”













