Minggu, 07 Juni 2009

memotret.mengedit.menulis.menyanyi

“aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember”

Desember. Desember. Desember. Selalu menyenangkan. Selalu berwarna. Selalu hujan dan selalu menikmati hujan. Dan terkadang muncul pelangi diantara mendung dan matahari yang mengintip sesekali. Lebih indah lagi jika senja. Mendung, pelangi, ujung sinar mentari, senja hari, lembayung, sedikit jingga dan Desember. Perfect!! Tak peduli sendiri, berdua, bertiga, atau se-unit marching band.*LOL. Semua terlalui setiap Desember. Semua ternikmati di Desember. Entah seperti apa Desember tahun ini. Semoga aku pun suka dengan Desember nanti. Waiting for Desember. Love in Desember. Playing on Desember. Singin on Desember. Ekpektation for Desember. Hope more better.


“come on baby try harder”

Mengapa menyerah begitu saja,tuan. Ayo berjuang lebih keras. Apabila mengecewakan apa dengan mudah ucapkan selamat tinggal. Mengapa menyerah. Sementara saya tidak akan menyerah. Walau bernyanyi sendiri. Bermimpi tentangmu sendiri. Bertanya padamu, meski kau tak berjuang untuk memberi jawaban pertanyaan hidup yang senantiasa ku tanyakan. Sampai waktu untuk bertanya dan menunggu selesai.


“gadis desa sepertiku tak mudah ditipu”

Baiklah tuan kapiten. Saya tidak akan tertipu lagi. No excuse untuk nona gadis desa. Terpukau dengan kerlip kerlip lampu di kota, bukan berarti lengah dan melebur bersama kemunafikan hidup. Hey bukalah kacamata hitam berbingkai merahmu. Saya pantang tertipu. Walau sering tak tersadar sudah tertipu atau malah menipu satu sama lain. Termasuk menipu diri sendiri, padahal kalbu kecil tak pernah bisa tertipu. No excuse and bla bla bla bla bla. Lepaskan tanganmu, persetan denganmu tuan kapiten. Berlarilah, pergilah, naik gerbong istimewa.


“making love to you just like a dreams to me, having you beside me is a fantasy”

Pernah bermimpi. Pernah berfantasi. Namun sangat jarang jika menjadi nyata. Beruntung mendapat kado terindah saat itu. Mungkin hasil dari sholawat nariyah yang kulafalkan 11 kali tiap habis sholat fardu. Entahlah, namun tidak juga. Karena sholawat itu pula sekarang mimpi dan fantasi itu tak lagi nyata. Jawaban terbaikkah. Semoga. Namun tak salah bukan untuk terus bermimpi dan berfantasi. Manusiawi bukan. Sekarang hanya tinggal mencoba peruntungan itu kembali.

“kau tahu hati adalah penglihatan paling sejati”

Iya saya tahu. Tetapi kalau menurut hati saya seperti itu, dan hatinya tidak seperti itu, hati siapa yang paling sejati. Hati siapa yang menang. Hati siapa yang paling benar. Tapi kata kawan lama Kono, “Kata-kata adalah jembatan. Waktu adalah jembatan. Tapi yang mempertemukan. Adalah kalbu yang saling memandang”.



*fiuh ternyata baru terdokumentasi segini..but i love indie band. masih ada sih beberapa namun sudah mengantuk aku mengedit dan menulis. mungkin nanti ada penambahan.enjoy.enjoy.enjoy ;))


Tidak ada komentar: