



Dulu waktu kecil, saya pernah bermimpi berenang di laut dan menepi di pulau-pulau Indonesia. Yah berenang, meski sampai sekarang saya tidak bisa berenang. Saya ingat lelah sekali saya berenang dan akhirnya menclok ke pulau yang betuknya seperti huruf K. Lalu saya berenang lagi dan tiba ke kepala pulau kalimantan. Huh lelah, tapi saya suka saat itu.
Waktu itu sampai ke bawa mimpi karena saking harus bisa menghapal pelajaran “Peta Bumi” entah masuk pelajaran geografi atau apa, waktu itu masih SD. Saya juga sedang giat-giatnya membaca atlas dan buku les yang diberikan guru SD saya waktu kelas 5, Pak Anhar namanya (yg beberapa bulan yg lalu kami bertemu di tempat tambal ban, jembatan 1 komplek rumah).
Judul bukunya saya lupa, yg pasti berisi pengetahuan tentang nama-nama kota Indonesia beserta potensinya. Mirip semacam modul sih, hasil rekapan yang dibuat oleh guru saya yang kreatif itu. Mati-matian saya menghapal semua kota di Indonesia beserta potensinya, hanya demi mendapat gelar kelompok terbaik di tempat les. Yah waktu itu Pak Anhar membuat macam cerdas cermat, membuat beberapa kelompok di kelas dengan nama benua di dunia. Nama kelompok saya benua Australia.
”Australia negri wol, katanya katanya. Aborigin sukunya, katanya katanya. Kanguru binatangnya, katanya katanya. Bumerang senjatanya, katanya katanya “ (senandung grup vokal favorite saya saat itu, Trio Kwek Kwek).
Setiap sore saat kami les, kami berlomba-lomba menempati posisi terbaik. Tanya jawab seputar kota di Indonesia dan juga di dunia seingat saya beserta potensinya. Asik sekali, kalo sekarang bisa dibilang memicu adrenalin. Tapi anak SD saat itu mana paham soal adrenalin. Yah suasana kompetisi di kelas kecil kami yang sangat menyenangkan. Ambisius sekali saya saat itu, harus mendapat gelar terbaik setiap hari. Meski hasilnya tidak selalu. Karena kawan-kawan yang lain ternyata berlaku sama. Mati-matian menghapal. Kompetisi langsung, nyata dan jujur. Hmmmf,Kangen.
Hasilnya sampai sekarang, metode pelajar ala guru saya itu ternyata menginspirasi saya untuk terus bertualang di negeri tropis yang semoga saja saya cintai. Belum banyak memang yang saya kunjungi. Pulau jawa mungkin sudah 40 persen, karena tiap kali mudik keluarga mengambil rute perjalanan yang berbeda. Namun sayang tidak terdokumentasi dengan baik. Usia 22 cukup telat memang untuk terus menjelajah. Namun tak apalah, biarkan angin membawa saya kemana dan dimana. Dan saya benar-benar harus belajar berenang agar jika sudah mentok, yah berenang saja mengarungi jelaga samudra. Seperti mimpi duidui kecil.
*Sedikit review in perfectly December 2008, the “kalbu” wasn’t shy.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar