Friday, October 5th, 2007
Cinta serupa dengan laut / Selalu ia terikat pada arus / setiap kali ombaknya bertarung / Seperti tutur kata dalam hatimu / Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya/ Kau disampingku / Aku di sampingmu / Kata-kata adalah jembatan / Waktu adalah jembatan / Tapi yang mempertemukan /Adalah kalbu yang saling memandang.
(Abdul Hadi W.M )kalo kata si Kono pahit.manis.asin. lalu si Kono berkata lagi.
"Setiap lelaki musti bertanggung jawab kepada hati yg dicintainya dan setiap wanita harus setia kepada hati yg ia cintai. Itu saja. Hukum alam itu. Kalau gak begitu,bakalan lemas lesu setiap orang berangkat kuliah."
“Bang Kono ada dimana sekarang? Lama tak besua bang. Melalui lirik2 hatimu yang kau tuangkan pada blog macam ini. dulu bulettin board di frisndster bang,hahah, kini tak kau ikuti trend facebook bang.tak apalah, jadi semakin rindu bang. Di negeri antah mana kau kini menapak. bah si bang Kono, bagaimana dengan kuliahmu bang. Tapi saya yakin bang, tiap tarikan napasmu adalah kuliah. Kuliah hidup.
Kalbu yang pernah kau lukiskan dulu nampak kini tak saling memandang bang. Pada kawanmu ini. belum ada kalbu yang memandang balik ke arah saya dengan niat yang tulus. Pernah namun hanya sebentar, selintas lalu kalbu itu menoleh kembali, melempar lebih jauh pandangannya dan membelakangi saya. Namun kalbu saya tidak beranjak bang. Ikut berbalik arah atau lebih jauh turut melempar pandang yang lebih jauh pun tidak. Sungguh sesak melihat punggung itu semakin menjauh bang. Punggung kalbu yang semakin lama terlihat kabur tiap mata ini berkedip. Dan saya masih diam ditempat. Dongo, kalo kata sahabat saya dokter koas ireng.
tak ada waktu lagi bahkan jembatan. Tak ada laut dan ombak bang. Mana bisa melebur. Tak ada dimensi yang menyatukan kalbu ini lagi bang. Sesal, entahlah bang. Saya tidak mau menyesali. Karena VAIN. Dan pertanyaan besarnya,”Mana yang harus saya percaya dari hidup bang”. Kuliah yang tak kunjung selesai ini. “


Tidak ada komentar:
Posting Komentar