Kamis, 08 November 2007
CERITA DARI BLORA
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Tebal :324 halaman
Cetakan :III, 2001
Penerbit :Hasta Mitra
Cerita-cerita perjuangan zaman kolonial sampai pada setelah kemerdekaan bukan barang baru. Lihat saja buku sejarah. Namun apa salahnya kita flash back, dan melihat potret-potret keluarga Indonesia dalam situasi menyedihkan, kepasrahan akan situasi, dalam derita dan nasib suram. Mereka membayar kemerdekaan dengan sangat mahal. Apa yang mereka kejar untuk impian-impiannya berujung kenaasan sampai pada level mempermalukan harkat kemanusiaan itu sendiri. Sedikit menggelitik sisi humanis sesekali apa salahnya.
Berlatar belakang di Blora, sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang dikelilingi rentetan bukit kapur, miskin, dan gersang. Namun pribumi di sana sudah merasa cukup puas dengan apa yang mereka dapati sekarang. Pada cerita ”Dia yang Menyerah”, potret keluarga besar yang ditinggal mati sosok ibu terdiri atas Bapak dan anak-anak gadisnya Is, Sri, Diah, serta 3 adik laki-laki yang masih bocah, tak lupa 2 kakak laki-laki Is yang ikut dalam peperangan di Jepang. Mereka hidup dalam 3 situasi kuasa suatu isme. Mulai dari kolonialisme, nasionalisme dan anti-nasionalisme.
Persetan dengan segala isme. Tetap saja mereka hidup dalam ketakutan, penderitaan, dan yang pasti kepasrahan yang luar biasa. ketika terjajah mereka menderita, Merdeka pun tak sanggup melawan kegetiran hidup akibat tekanan-tekanan dan situasi negara yang masih labil. Keinginan-keinginan hati kecil seperti belajar dan bersekolah pun tak berani mereka kemukakan, lebih baik dilupakan, akan lebih aman. Walau merdeka, sketsa-sketsa kekejaman para revolusioner merah, lengkap dengan istilah-istilah feodal, imperialis, kapitalis, borjuis, dan isme-isme yang membuat dahi berkerut, menahan napas, dan berdiri bulu roma.
Namun keluarga gadis Diah tetap pasrah menangisi setiap momentum pelanggaran kemanusiaan yang datang melanda keluarganya. Bapak yang nasionalis dan anti komunis, Is yang manut menjadi bebek terpengaruh paham pasukan merah yang anti pemerintah karena menganggap pemerintah adalah budak imperialis-kaliptalis Amerika. Serta kakak laki-laki mereka yang datang dari tentara Kerajaan ikut menuding perampok nasionalis dan komunis. Tapi Diah dan adik-adiknya lagi-lagi pasrah mau kemana nasib mereka terbawa. Ya Mereka menyerah dengan luar biasa. Menangis dengan luar biasa.
Kita juga bisa menikmati menusia-nya manusia dalam ”Hidup yang Tak Diharapkan”, tentang Kajan manusia yang selalu melindungi dirinya agar tetap dianggap manusia meski dengan cara yang picik, busuk, culas. Tentang nasib sundel yang tak bersyukur akan yang ia miliki sebelum ia menjadi pelacur dalam ”Pelarian yang Tak Dicari”.
Lukisan-lukisan humanisme dalam tiap kisah mampu Pram alirkan dengan kalimat sederhana, mengalun, sampai membuat kita terbuai dan tenggelam dalam tiap latar. Meskipun dalam buku ini banyak ejaan-ejaan lama yang tidak baku (dulunya mungkin baku), namun apa salahnya mengetahui kosakata yang mungkin sudah tidak dipakai saat ini. Karya fiksi ini sangat menipu, dalam artian seolah kita membaca cerita yang pernah terjadi dalam Pram. Fiksi yang non-fiksi. Mungkin dalam detail setiap adegan, pernah Pram alami atau lihat dengan mata kepala sendiri. (Diah Ismawardani P.)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


1 komentar:
huehehehe...
iseng bikin blog baru...coz yg lama teuing kamana...???
Posting Komentar