Selasa, 13 November 2007
Musik Anak-anak Akankah Habis Ditelan Zaman?
Aku adalah anak gembala
Selalu riang serta gembira
Karena aku rajin bekerja
Tak pernah malas ataupun lengah
Tralala… lalalala…
Tralala…lalalalalala…
(Anak Gembala, AT. Mahmud)
Masih ingat dengan lirik lagu ini? Bagi kita yang hidup di era 80 sampai 90-an, mungkin lagu ini tidak terdengar asing. Lagu yang sangat sederhana, namun cukup melekat dan popular di masanya. Tapi mungkin berbeda dengan anak-anak zaman sekarang. Lagu apa yang melekat pada diri anak-anak sekarang belum tentu sesederhana dan santun seperti lagu anak-anak dulu. Lagu anak-anak kini bias makna dan penghayatan, atau sebenarnya malah mati dimakan zaman?
Sungguh menyedihkan melihat perkembangan musik anak-anak di era sekarang. Era yang menggembor-gemborkan globalisasi malah menggeneralisasikan segala sesuatu, termasuk dalam bidang musik. Musik yang erat kehadirannya hampir di setiap kehidupan manusia. Bahkan bisa dibilang tak ada orang yang tak suka musik. Termasuk anak-anak.
Mungkin bagi kita yang hidup dan memiliki masa kanak-kanak di era 80 sampai 90-an, masih bisa menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan anak-anak. Dan tentunya lirik yang dinyanyikan pun syarat akan nilai pendidikan. Namun apa yang terjadi dengan lagu anak-anak pada era millennium ini. Era di mana ternyata anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa, menyanyikan pikiran dan kemauan orang dewasa. Tanpa pemahaman dan penghayatan akan isi lagu. Dan tentunya akan mempengaruhi psikologis, pola berpikir, serta tingkah laku anak.
Tak bosan mengungkapkan keprihatinan pada lagu anak-anak zaman sekarang. Bahkan penyanyi cilik pun tak banyak yang bermunculan. Bila kita ingat dulu di era 80-an, muncul nama-nama penyanyi cilik seperti Cicha Koeswoyo yang terkenal dengan lagu “Helli”, Adi bing Slamet, Sari Koeswoyo, Dina Mariyana, Diana Papilaya, Yoan Tanamal, dan masih banyak lagi. Mereka membawakan lagu-lagu yang santun dan sederhana, serta syarat akan kegembiraaan selayaknya dunia anak-anak.
Melihat di era 90-an awal eksistensi penyanyi cilikpun masih bagus. Terasa dengan muncul grup penyanyi cilik seperti Trio Cerewet dengan lagu yang populer “Ku Buka-buka Lemari”, “Si Lumba-lumba” yang dinyanyikan si ganteng Bondan Prakoso, serta si manis Enno Lerian dengan lagunya yang popular “Nyamuk-nyamuk Nakal”. Di tahun era akhir tahun 90-an pun penyanyi cilik belum mati keberadaannya. Muncul nama-nama seperti Joshua, Trio Kwek-kwek, Sherina, Tinna Toon, Tasya dan masih banyak lagi. Lagu-lagu yang mereka bawakan juga maih syarat akan nilai pendidikan dan kegembiraan.
Media Penyiaran Dapat Turut Andil
Lalu mana penerus Cicha, Enno, atau Tasya sekarang. Bisa dibilang tidak ada. Anak-anak zaman sekarang lebih menyukai musik-musik orang dewasa yang sangat nge-pop istilahnya. Bisa dibilang perkembangan musik di Indonesia sekarang didominasi oleh musik anak muda. Dengan dimotori oleh grup band yang banyak bermunculan serta membawakan lagu dengan tema yang tak jauh dari masalah percintaan serta gejolak kawula muda. Dan ini belum saatnya terpikirkan pada usia anak-anak.
Memang tidak salah bermunculannya penyanyi atau grup band dewasa muda di dunia musik Indonesia. Setiap musik memiliki kategorisasi tersendiri bagi penikmatnya. Toh, masyarakat dewasa muda pun banyak seperti anak-anak. Namun sepertinya indusri musik negeri kita kurang memperhatikan eksistensi musik anak-anak. Karena yang laku dipasaran lagu anak muda, maka dibuatlah sebanyak-banyaknya album dan di cari penyanyi atau grup band anak muda. Sisi komersil keluar di sini, dan fungsi mencerdaskan kehidupan bangsapun diabaikan.
Dulu, televisi dan radio sangat memfasilitasi eksistensi lagu-lagu anak. Banyak program penyiaran yang mengkhususkan diri untuk memutarkan lagu serta menayangkan video klip anak-anak. Selain itu cukup banyak program anak yang mengandung nilai pendidikan, pengetahuan, serta psikologis anak. Tahun 1969 TVRI membuat program acara lagu anak yaitu “Lagu Pilihanku” yang bersifat lomba. Jumlah peserta 5 (lima) orang yang dipilih melalui test.
Untuk testing, calon peserta harus melapor diri pada Kepala Sub Bagian Pendidikan, yang kemudian akan memperoleh Surat Peserta Testing. Testing dilakukan oleh dua orang yang ditunjuk koordinator acara, berlangsung di studio TVRI.
Acara ini ditayangkan dua kali sebulan, bergantian setiap seminggu sekali dengan “Ayo Menyanyi”. “Ayo Menyanyi” adalah program yang berbentuk pelajaran untuk menyanyikan lagu baru. Setelah kedua acara di atas berlanjut dan berkesinambungan selama 20 tahun, pada tahun 1988, atas suatu kebijaksanaan pimpinan TVRI, seluruh tim diminta mundur dari kedua acara tersebut. Untuk beberapa saat acara “Ayo Menyanyi” dengan nama lain dilanjutkan dengan pembawa acara seorang artis, yang berlangsung tidak lama. Kemudian, pembawa acara digantikan seorang artis lain. Itu pun hanya bertahan sebentar, kemudian untuk seterusnya menghilang sama sekali dari tayangan di layar TVRI.
Di tengah tahun 90-an di televisi muncul acara seperti “Si Komo”, “Dunia Anak”, “Tralala-Trilili”, “Ci-Luk-Ba”, “Kring-kring Olala”, dan masih banyak lagi. Program anak ini memunculkan lagu-lagu anak serta liputan-liputan yang cukup baik untuk ditonton anak-anak.
Tapi melihat sejenak tayangan televisi dan radio sekarang sangat jarang atau bahkan tidak ada program khusus untuk anak-anak. Yang ada mungkin hanya film-film kartun, namun tidak semua menghibur dan mengandung nilai pendidikan. Bahkan ada beberapa film kartun yang dianggap mengandung kekerasan, ketidaklogisan tingkah laku para pemerannya, dan itu dianggap berdampak buruk bagi perkembangan psikologis serta tingkah laku anak.
Siapa Penerus A.T Mahmud ?
Fenomena ini memang bisa disebabkan oleh banyak hal. Termasuk keberadaan pencipta lagu anak-anak yang kini pun kita tak tahu siapa yang menjadi penerus A.T Mahmud, Ibu Kasur, Ibu Sud, Pak Dal, atau Papa T.Bob? Dulu munculnya nama-nama pencipta lagu selain dikarenakan TVRI memfasilitasinya lewat acara “Ayo Menyanyi” dan “Lagu Pilihanku”, lagu-lagu yang diciptakan pun diminati oleh perusahaan rekaman.
Tercatat nama perusahaan rekaman, seperti: Remaco, Elshinta, Bali, Canary Records, Fornada, J & B Records. Lagu-lagu ciptaan AT Mahmud pun mendapat perhatian. Di samping lagu-lagu ciptaan pencipta lainnya, ada sekitar 40-an lagu A. T. Mahmud tersebar pada 7 (tujuh) piringan hitam antara tahun 1969, 1972, dan tahun-tahun sesudah itu, yakni Citaria, Musim Panen. Jangkrik, Gelatikku. Layang-Layangku, Ade Irma Suryani, Kereta Apiku, Jakarta Berulang Tahun, Pemandangan, Timang Adik Timang, Pulang Memancing, Hadiah untuk Adik, Tidurlah Sayang, Mendaki Gunung, Sekuntum Mawar, Tepuk Tangan, Kincir Air, Dua Ekor Anak Kucing, Bulan Sabit, Lagu Tor-Tor, Tupai, Burung Nuri, Di Pantai, Senam, Bintang Kejora, Aku Anak Indonesia, Aku Anak Gembala, Kunang-Kunang, Naik Kelas, dan Awan Putih. (sumber, www.ensiklopediatokohindonesia.com)
Pencipta lagu sekarang lebih berorientasi pada hal yang bersifat komersil. Seperti menciptakan lagu yang hanya diminati oleh banyak kalangan, seperti lagu-lagu anak muda. Begitu pula dengan radio dan televisi yang lebih banyak memutarkan dan menayangkan lagu-lagu anak muda. Sekali lagi di sini tidak menyalahkan pesatnya perkembangan musik anak muda. Namun cukup menyayangkan ternyata perkembangan musik anak muda yang pesat ini justru mematikan musik anak-anak. Mungkin lebih halus lagi mengubah minat anak-anak zaman sekarang terhadap musik yang sewajarnya mereka nikmati di usianya.
Keberadaan pencipta lagu anak ternyata penting untuk mempertahankan eksistensi lagu anak. Tentunya dengan memiliki kemampuan membuat lagu yang bagus dan jelas tujuannya untuk anak-anak . Seperti AT Mahmud yang mengatakan lagu ciptaannya bersumber pada tiga hal, yang berdiri sendiri atau saling mempengaruhi. Pertama, bersumber pada perilaku anak itu sendiri. Kedua, pada pengalaman masa kecilnya. Ketiga, pesan pendidikan yang ingin ia sampaikan pada anak-anak.
Memperingati Hari Musik Nasional 9 Maret ini, pecinta musik Indonesia tidak hanya memperhatikan dan mencintai musik-musik popular yang tengah bergaung sekarang. Kepedulian tehadap musik anak-anak diharapkan tidak terabaikan. Begitu pula dengan musik daerah. Karena bagaimanapun juga anak-anak Indonesia adalah penerus bangsa. Diharapkan mental dan kepribadian bangsa tertancap dalam lubuk hati mereka. Dengan bisa menikmati pendidikan yang layak serta pengalaman masa kecil yang seharusnya. Salah satunya melalui musik anak yang berkepribadian, bernilai pendidikan, sesuai dengan tingkat psikologis anak, serta kegembiraan masa kanak-kanak.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar