Kamis, 08 November 2007

Wayang Beber, Alternatif Pendidikan Berbahasa

Siang itu si Kancil sedang asik berjalan-jalan di tengah hutan. Pada saat ia ingin menyeberangi sungai, sekelompok buaya menghadangnya. “hey buaya maukah kau menolongku menyeberangi sungai” kata kancil. Namun buaya yang kelaparanpun menjawab. “tidak kami akan memakan kau saja”. Si kancil pun tak kehabisan akal, “Baiklah, kalian boleh memakanku. Tapi Bantu aku dahulu menyeberang sungai, nanti kalian bisa memakanku kemudian”. Buaya yang bodohpun mau mengikuti permintaan kancil. Mereka berjajar sepanjang sungai dan dengan mudah kancil menyebrangi sungai. Namun setelah sampai ke seberang sungai, kancil berkata” hey buaya-buaya bodoh, terima kasih telah membantuku” sambil berlari kencang memasuki hutan belantara.

Tepuk tangan riuh rendah terdengar dari ruang kelas. Sang guru yang sejak tadi mendongeng menutup lembaran gambar terakhir cerita si Kancil dan Buaya. Kini tugas para siswa yang sejak tadi duduk manis mendengar dan melihat potongan gambar bercerita, untuk menuliskan dongeng itu kembali dalam sebuah gulungan kertas.
Fabel Si Kancil dan Buaya memang sudah tak asing di telinga kita. Dongeng ini sangat popular di kalangan anak-anak. Dongeng-dongeng seperti ini biasanya memiliki pesan moral yang diungkapkan kepada anak-anak, agar mereka dapat memetik pelajaran darinya. Selain itu dongeng-dongeng ini bisa membangkitkan imajinasi dan melatih kemampuan mendengar anak.

Mendongeng ternyata adalah metode pengajaran yang paling disenangi oleh siswa Sekolah Dasar (SD). Pengajaran yang menyenangkan dengan media yang tepat, selain dapat membantu siswa dalam memahami suatu pesan, dapat merangsang kemampuan berbahasa siswa.

Ida Widia (33), dosen Fakultas Ilmu Pendidikan , Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menemukan metode baru dalam pengajaran sastra bagi siswa SD. Dalam tesisnya berjudul “Penerapan Teknik Pagelaran Wayang Beber Dalam Pengajaran Sastra Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengarang Siswa Sekolah Dasar”, ia mengkhususnya pada kegiatan menulis.

Dalam penelitiannya, ia mengungkapkan teknik pagelaran wayang beber, bisa dijadikan alternatif dalam kegiatan mendongeng, yang dapat memicu kreativitas anak-anak untuk menulis. Wayang beber memiliki dimensi yang berbeda dibandingkan dengan wayang lainnya. Tidak menggunakan dimensi bayangan seperti wayang kulit, atau dimensi bentuk manusia seperti wayang orang. Dalam penyajiannya, wayang beber berdimensi gambar.
“Merujuk pada kurikulum pelajaran Bahasa Indonesia yang mengharapkan siswa dapat menulis dan mengarang dengan baik, maka saya mencari media yang bisa dilakukan dengan mudah dalam menstimulus kemampuan mengarang anak. Salah satunya bisa dengan menggunakan media pagelaran wayang beber.” Ungkap ibu 3 anak ini.

Teknik pagelaran wayang beber secara sederhana dapat dilakukan di mana saja. Bahkan di kelas pun bisa. Biasanya anak-anak duduk lesehan membuat setengah lingkaran. Lalu guru berperan sebagai sang pendongeng. Dengan duduk bersila di tengah lingkaran anak-anak, guru bercerita sambil membeberkan alat peraga berupa gulungan kertas bergambar yang berisi potongan-potongan cerita pada anak-anak.

Wayang beber dalam penelitian ini adalah menggunakan gambar bercerita, yang digambar diatas kertas memanjang. Kertas memanjang itu digulung dan bila setiap gulungan itu dibuka akan muncul gambar bercerita lain. Namun gambar-gambar bercerita dalam kertas itu masih berhubungan satu sama lain. Peneliti memunculkan kisah Si Kancil yang digambar khusus oleh seorang karikatur dari Jepang. Gambar bercerita itu dibuat dengan warna yang mencolok dan bercorak. Hal ini dimaksudkan agar anak lebih tertarik dan penasaran cerita apa yang ada dalam gambar tersebut.

Pada awalnya wayang beber telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit ini, digunakan sebagai media tradisional hiburan rakyat. Cerita-cerita yang biasanya diberikan adalah cerita tentang peperangan, dan panji-panji. Dinamakan wayang beber karena cerita yang ada dilukis dalam layar yang dibuat diatas kain, kemudian gulungannya digulung saat ditampilkan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti di Sekolah Dasar Laboratoriun (Labschool) UPI, Kampus Cibiru, kemampuan anak dalam mengarang semakin meningkat. Biasanya kesulitan yang dialami oleh anak-anak adalah bagaimana caranya menuangkan pesan-pesan yang telah mereka tangkap dalam sebuah tulisan. Pemilihan kosakata yang tepat, dan menyambungkan antara kalimat yang satu dengan yang lain. Berbeda dengan kemampuan berbicara anak-anak sekarang, menulis jauh lebih sulit.

Saat pertama dikenalkan wayang beber oleh guru anak-anak terlihat sangat tertarik. Respon yang munculpun beraneka ragam, seperti yang diungkapkan Esih Rusmiati, Guru Bahasa Indonesia Labschool UPI yang menggunakan media pagelaran wayang beber ini pada siswa kelas 5 Aljabar .

“Memang kelas ini dicoba karena kelas ini kelas aljabar, lebih fokus pada numerik saja. Pada awalnya memang mereka sangat tertarik melihat alat peraga wayang beber tersebut. Apalagi warna-warna mencolok yang ada dan dengan menggunakan penggulung kertas yang membuat mereka penasaran ada cerita apa lagi dibalik gulungan kertas itu. Namun pada saat diperintahkan untuk menulis mereka agak kesulitan. Inilah yang harus dipicu terus. Hal ini biasanya berpengaruh juga pada kemampuan guru yang mendongeng. Dimana pendeskripsian suasana harus detil dan jelas,”.

Tujuan dalam menggunakan teknik pagelaran wayang beber ini, sebenarnya anak-anak dibiarkan membebaskan imajinasi dari melihat gambar yang diberikan. Terlebih jika gambar yang diberikan berwarna dan menarik. Anak-anak lebih menyukainya dan dapat menarik perhatian mereka. Dari imajinasi itulah mereka dirangsang untuk menemukan kosakata-kosakata baru, dan diharapkan mereka mulai bisa menuliskan kata-kata baru ke dalam sebuah tulisan. Hal ini terlihat dari cara mereka mendeskripsikan suasana, tokoh, dan alur cerita.
Lalu apa-apa saja yang harus dilakukan oleh guru dalam teknik ini? Terutama agar targetan-targetan yang merujuk ada kurikulum tercapai.

“Sebenarnya ini tergantung pada kemampuan dan kemauan guru itu sendiri. Saya membebaskan bagaimana cara mendongeng dan gambar-gambar yang dipilih. Yang terpenting adalah teknik pagelarannya. Anak-anak akan merasa lebih santai dengan suasana seperti itu. Namun alangkah lebih baik bila gambar yang diberikan bercorak dan berwarna. Karena anak-anak akan menyukainya, dan diharapkan dapat merangsang kemampuan mengarang mereka yang sebenarnya ada,” Ungkap Ida yang pernah menjadi guru Bahasa Indonesia di Sekolah Republik Indonesia Tokyo tahun 1997.

Sebenarnya teknik pagelaran ini sangat sederhana. Tidak memerlukan banyak alat peraga seperti teknik pagelaran wayang lainnya. Namun, ditekankan pada media gambar yang dipilih sebaiknya yang sangat bisa menarik perhatian anak-anak. Begitu pula dengan cara guru mendongeng, tambahnya.

Tidak ada komentar: